Bung_Djo

Just another Blogdetik.com weblog

Pikirkanlah…..Sebelum…

Hari ini…
Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum kamu mengeluh tidak punya apa-apa
Pikirkan tentang mereka yang harus meminta-minta di jalanan.

Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.

Sebelum kamu mengeluh tentang pasangan mu.
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup

Sebelum kamu mengeluh tentang nasib hidupmu,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat

Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul

Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu lalai
Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal di jalanan dengan apa adanya

Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu,
Pikirkan tentang pengangguran yang mencari pekerjaan seperti mu

Sebelum kamu menunjukkan jari telunjukmu untuk menyalahkan orang lain,
Pikirkanlah, bahwa keempat jarimu yang lain menunjuk padamu dan tidak ada orang yang tidak pernah membuat kesalahan.

Unas, Kekejian yang Terulang

Hari masih pagi. Jam dinding di ruang tamu rumah saya baru menunjukkan pukul 06.00 WIB, Sabtu 24 Mei. Tiba-tiba telepon genggam saya yang tergeletak di sofa berdering.

“Waduh bos, polisi nyerbu Unas (Universitas Nasional). Adik-adik gue pada ditangkepin dan digebukin. Mereka disiksa persis kriminal yang ketangkep basah terus dihakimin massa,” ujar Aloysius Rebong, teman sekaligus Ketua Perhimpunan Alumni Aktivis Unas.

Rupanya demo menolak kenaikan harga BBM yang baru saja diumumkan pemerintah Jumat 23 malam di kampus Unas berujung bentrok. Polisi menyerbu ke dalam lembaga pendidikan ternama di wilayah Pasar Minggu itu.

Mahasiswa yang tertangkap langsung digebuk, dipukul dan ditendang hingga menjerit-jerit kesakitan. Hari itu, semua mahasiswa yang bertemu polisi di dalam kampus Unas pasti babak belur.

Padahal belum tentu semua mahasiswa itu mengikuti unjuk rasa. Bisa jadi mereka memang terjebak atau takut pulang karena demonstrasi berkembang menjadi situasi yang tidak kondusif.

Tapi polisi mana mau tahu. Semua yang berada di dalam kampus adalah demonstran. Dan demonstran harus dihajar. Titik!

Sebenarnya bukan baru kali ini saja aparat melakukan perusakan di dalam kampus. Hal serupa juga pernah, bahkan sering, terjadi sebelumnya. Baik di Jakarta maupun kota lainnya. Di Makassar, polisi pernah memporak-porandakan Universitas Muslim Indonesia (UMI).

Tidak hanya kampus, rumah sakit pun pernah menjadi sasaran amukan polisi di negeri ini. Masih teringat jelas dalam ingatan saya peristiwa penyerbuan ke RS Jakarta pada 20 Oktober 1999, sekitar pukul 22.00 WIB.

Puluhan personel PHH dan Brimob masuk ke dalam RS Jakarta untuk mengejar mahasiswa dan pendukung Megawati. Seperti di Unas, di RS Jakarta polisi juga menghajar siapa saja yang ditemui, entah itu mahasiswa, masyarakat umum, bahkan wartawan.

Sungguh mengerikan bila mengingat kejadian itu. Teriakan minta ampun berbalas dengan ayunan popor senjata atau pentungan. Belum lagi tembakan gas air mata yang dilontarkan di dalam basement. Berbagai peralatan medis yang dimiliki RS tersebut rusak parah. Sejumlah kaca pecah berantakan.

Padahal dalam hukum perang sekalipun tindakan penyerangan oleh aparat keamanan terhadap rumah sakit tidak dapat dibenarkan. Hal ini sesuai dengan konvensi Genewa tahun 1949.

Tapi itulah yang terjadi di negeri ini. Dengan alasan ada provokator atau terprovokasi tindakan mahasiswa, polisi berhak melakukan kekerasan di kampus dan RS sekalipun.

Jadi apa yang terjadi di Unas, bukan yang pertama. Itu adalah sebuah kekejian yang terulang.

Lagu-lagu Perjuangan

Bergerak dan bersatu, menuju Indonesia Baru. Singkirkanlah benalu, Singkirkan juga Musuh-musuh…

Itu adalah penggalan salah satu ‘Lagu Perjuangan’ mahasiswa yang ramai dinyanyikan saat demo pada bulan Mei, 10 tahun lalu. Saat itu, para mahasiswa menuntut reformasi. Dan di bulan Mei ini, tiba-tiba saja saya teringat lagu-lagu perjuangan itu.

Ada banyak lagu-lagu perjuangan yang dinyanyikan mahasiswa saat mereka berunjuk rasa untuk membangkitkan semangat. Syair dan liriknya ada yang baru atau original, ada pula yang merupakan plesetan dari lagu-lagu yang sudah ada. Sebagian lagu-lagu perjuangan yang masih saya ingat antara lain:

INDONESIA TANAH AIR SIAPA?

Indonesia Tanah Air Siapa
Katanya Tanah Air Beta.
Indonesia Sejak dulu Kala
Rakyatnya Tidak Sejahtera.

Di sana aktivis disiksa
Petani dirampas hartanya
Upah Buruh Murah Dibayarnya
Sampai Mati Tak Punya Rumah.
============

INDONESIA BARU

Bergerak dan Bersatu
Menuju Indonesia Baru
Singkirkanlah Benalu
Singkirkan juga Musuh-musuh

Rakyat Pasti Menang Melawan Penindasa
Rakyat Kita Pasti akan Menang (2x)

Reformasi…Reformasi…Reformasi Sampai Mati

==============
NEGERI BERDARAH

Indonesia negeri berdarah, berbagai macam peristiwa
Ambon, Aceh dan Timor leste, Serta tragedi yang lainnya
Sampai kapan ini terjadi, Dijajah bangsa sendiri
Mari kita rapatkan barisan, tuk melawan penindasan

Tragedi… Semanggi
Tragedi… Trisakti
Tragedi… Dua tujuh Juli,

Peristiwa Lampung
Peristiwa Tanjung Priok
Peristiwa Malari..Banyuwangi

Sudah banyak saudara kita
Yang jadi korban penindasan
Mari kita rapatkan barisan
Tuk melawan penindasan

Aparat…. Keparat
Militer… Bangsaat
Polisi… Anjing taik kucing

Prabowo… Keparat
Wiranto… Bangsaat
Soeharto…. Anjing taik kucing…

=================

DARAH JUANG

Di sini Negeri Kami, Tempat Padi Terhampar
Samuderanya.. Kaya Raya
Negeri Kami Subur Tuhan.

Di Negeri Permai Ini
Berjuta Rakyat Bersimbah Luka
Anak Kurus Tak Sekolah
Pemuda Desa Tak Kerja

Mereka Dirampas Haknya
Tergusur dan Lapar
Bunda Relakan Darah Juang Kami
Tuk Bebaskan Rakyat

Padamu Kami Berjanji
Padamu Kami Berbakti
=============

ABRI

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Tidak Berguna, Diganti Menwa, Ya Sama Saja
Lebih Baik Diganti Pramuka

Naik Bis Kota Tak Pernah Bayar
Apalagi Makan di Warung Tegal
Suka Perkosa Istri Orang
Tukang Pukul Mahasiswa

===============

(Nggak tahu judulnya)

Buruh tani mahasiswa kaum miskin kota
bersatu padu rebut demokrasi
gegap gempita dalam satu suara
demi tugas suci yang mulia

hari-hari esok adalah milik kita
terbebasnya massa rakyat pekerja
terciptanya tatanan massa rakyat
demokrasi sepenuhnya

marilah kawan, mari kita kabarkan
di tangan kita tergenggam arah bangsa
marilah kawan, mari kita nyanyikan
sebuah lagu tentang pembebasan

di bawah topi jerami
kususuri terik matahari
berjuta kali turun aksi
bagi kami suatu langkah pasti

di bawah kuasa tirani
kususuri garis revolusi
berjuta kali lawan tni
bagi kami suatu kemenangan

***
Saat ini demo mahasiswa kembali marak, baik di Jakarta dan di berbagai di pelosok daerah. Mereka menolak kebijakan pemerintah yang berencana menaikkan harga BBM. Aksi refresif aparat pun mulai terjadi. Akankah lagu-lagu ini berkumandang lagi?

Mancing Bareng Si Sulung

Sabtu 10 Mei malam, telepon rumahku tiba-tiba berdering. “Halo….,” sapa suara yang sangat aku kenal baik.

“Eh besok loe ada acara nggak? Kalau nggak ada, kita mancing yuk,” imbuh si penelepon, yang tak lain adalah Sigit Sujatmiko, teman dekat semasa kuliah dulu.

Aku langsung menjawab Ok. Kebetulan, aku memang beberapa kali janji dengan putra sulungku, Wicak, untuk pergi mancing. Tapi sampai saat ini belum juga terlaksana. Saat kusampaikan rencana ini, bukan main senangnya dia.

Singkat cerita, aku pergi bersama wicak menuju rumah Ian, teman kuliah yang lain. Aku, Sigit, seorang kawan lainnnya bernama Raden, memang janjian kumpul dulu di rumah Ian sebelum mancing. Dari sana, kita berangkat bareng ke kolam pemancingan ikan di Pondok Rajeg, Cibinong. Ian juga membawa putra sulungnya, sedangkan Sigit dan Raden tidak.

Wicak ternyata sangat senang sekali diajak mancing. Matanya kerap berbinar-binar saat mata kailnya disambar ikan yang lapar. Terlebih saat meggulung senar pancing…wuih gayanya kayak profesional. Dia baru berteriak minta bantuan saat sudah kewalahan.

“Papa..ikannya dapat lagi…!” katanya setiap kali berhasil memancing ikan.

Sampai akhirnya kami sadar hari sudah menjelang gelap. Takut kemalaman, aku dan Wicak pun pulang duluan sambil membawa 5 ekor ikan bawal hasil pancingan jagoan kecilku. “Pa kalau aku libur mancing lagi ya,” ujar Wicak. Siap bos!
mancing13.jpgmancing2.jpgmancing3.jpg

Saat SMS Jadi ‘Tuhan’

Jumat 2 Mei malam, sepulang kerja seperti biasa senyum istri dan 2 anak saya selalu menyambut. Dan seperti biasanya pula, senyum-senyum itu laksana sapu yang menyingkirkan debu kelelahan di sekujur tubuh ini.

Waktu belum larut memang, hingga dua buah hati kecil saya pun masih terjaga. Namun itu tidak lama. Beberapa saat kemudian, keduanya langsung asyik dengan mimpinya masing-masing.

Alhamdulillah, sampai saat ini saya bisa menidurkan keduanya di kasur yang lumayan empuk. Tidak seperti banyak anak-anak lain di negeri ini yang harus tidur berbantal trotoar atau berbaring di bangku dan lantai terminal. Banyak anak di bumi pertiwi ini juga tidur dengan tubuh tertekuk menahan lapar.

“Terima kasih ya Alloh atas segala karuniamu,” bisikku dalam hati saat menatap dalam dua wajah polos itu.

Setelah anak-anak tidur, tinggalah saya duduk berdua dengan istri. Hemm…suasana mendukung nih. Jarang-jarang si sulung tidur sore. Huss…jangan ngeres dulu! Kami berdua sering memanfaatkan waktu luang seperti ini untuk menonton TV. Remote control kuraih dan TV LG 21 inc berwarna silver pun menyala.

Indonesian Idol. Di antara acara kontas-kontes menyanyi yang menjamur di TV lokal, kami berdua paling menyukai Indonesia Idol. Lumayan bagus dibanding yang lain. Dari ajang audisi hingga proses penjuriannya baik.

Siapa yang nggak kenal prestasinya Indra Lesmana dan Titik Dj. Keduanya kerap beberapa kali ikut festival, baik lokal, regional maupun internasional. Cuma Anang yang saya nggak tahu benar, selain dia suaminya KD. Dia pernah jadi jawara di festival apa ya?

Satu persatu peserta wanita unjuk kebolehan. Ada wulan, yang menggebrak dengan lagu berirama cepat milik Pinkan Mambo berjudul Kasmaran. Penampilan cewek asal Yogya ini, cukup Ok. Gayanya lepas dan nggak over.

Begitulah, satu persatu mereka unjuk kebolehan. Ada yang dipuji ada pula yang dihinadinakan oleh para juri. Yuka misalnya, dia menyanyikan lagu Negeri di Awan dari Kantor Bagaskara. Gaya nyanyi cewek ini asyik banget dengan pianonya.

Sampai akhirnya, saat penentuan pun tiba. Siapa yang bakal tersisih segera diumumkan. Sebelumnya, penyanyi Rossa yang hadir di acara itu memprediksi 3 nama yang bakal tersisih adalah Dyna, Safira, dan Gisel. Secara ketiganya emang jelek banget. Lah dengar aja si Safira waktu nyanyiin lagu Dokter Cintanya Dewa Dewi. Ancuuuur banget. Saya setuju banget sama Rossa.

Tapi apa kenyataannya? Prediksi Rossa salah besar. Yang malem itu tersisih malah Yuka, Wulan, dan Ibeth. Tiga kontestan yang nyanyinya justru bagus-bagus banget. Tengok aja pendapat Indra Lesmana. Dia bilang penampilan Ibeth saat menyanyikan Aku Tak Mau Sendiri salah satu yang terbaik.

Tapi yah apa mau dikata. Penilaian juri bukan penentu, bahkan sangat, sangat, sangat tidak ada pengaruhnya. Semuanya serba ditentukan sama SMS. Tragis, ironis, fasis…

Kalau begini caranya, Indonesian Idol nggak ada bedanya sama kontas-kontes nyanyi lainnya. Mereka punya ‘Tuhan’ yang sama, yakni SMS. SMS-lah yang menentukan segalanya, siapa bertahan siapa ditendang. Dan kita tahu, SMS itu berarti uang. Jadi kontestan yang didukung finansial besar, lebih berpeluang menjadi juara. Bukan yang apik suara dan penampilannya.

Seperti gosip jalanan Slank, UUD (Ujung Ujungnya Duit). Bagaimana mau dapat idola yang berkualitas kalau begitu caranya.

“Mah mendingan bobo aja yuk,” kata saya kepada istri. TV dan lampu di ruang keluarga pun padam. Selanjutnya terdengar derit pintu kamar kami terbuka…

Kisah Bengawan Solo

Saya mempunyai teman akrab, maaf saya tidak bisa sebutkan namanya, di kantor. Dia cukup baik, cerdas, dan solider. Dahulu, sebelum saya berkeluarga (kembali), kemana pun kami selalu bareng. Menyusuri liku-liku dan pelosok Jakarta, dengan segala atributnya siang dan malam, kerap kami lakoni bersama.

Jadi tidaklah aneh, jika saya kenal baik segalanya tentang dia. Begitu juga sebaliknya. Tak terkecuali pengalaman dengan hal yang satu ini, wanita !

Teman saya itu dikenal sebagai play boy. Matanya selalu berbinar-binar saat bercerita soal pengalamannya memburu wanita. “Gila men, kayak kaca,” ujar dia jika menggambarkan keseksian wanita dengan perut rata yang baru saja dikencaninya.

Tak terhitung sudah berapa jumlah wanita yang pernah diklaim sebagai pacarnya. Ada Mawar, Melati, Kenanga, Dahlia, serta sederet nama lainnya. Setiap mendapat ‘cinta’ baru, di selalu menunjukkan foto sang cewek sebagai bukti otentik. Dan memang hampir semua foto yang ditunjukkan nilainya di atas rata-rata.

Tapi ya itu….tidak satu pun dari cewek-cewek itu yang bisa berlama-lama bersanding dengan sang Arjuna. Paling lama, hanya bertahan 2 bulan. Setelah itu putus alias ke laut.

Saya nggak pernah menyelidiki apa alasan di balik kisah kandasnya perahu cintanya. Toh buat saya ngga penting. Itukan urusan pribadi dia. Tapi yang jelas, seringnya dia berganti pacar dan seringnya dia putus, membuat saya punya julukan buat dia. Bengawan Solo.

Kok bengawan Solo? Lah inget dong bait terakhit lagu itu…Akhirnya ke Lauuuttt….ha…ha…teman itu sewot bukan main kalau mendengar ejekan itu. Tapi ya namanya juga teman baik, dia pun tidak pernah sungguh-sungguh marah.

Terakhir dia bercerita tentang kekasih barunya bernama sebut saja, Denia. Dan seperti yang sudah-sudah, hubungan mereka hanya bertahan hitungan 2-3 bulan. Dua minggu lalu baru putus. Kisah Bengawan Solo pun kembali terulang. Akhirnya ke Lauuuuuttt…….

Salam Piece Brother

Kepalaku Puyeng

Duh, sudah beberapa hari ini kepala ku kok rada puyeng. Perasaan nggliyeng ngga karuan. Tadinya mau ngga ngantor, ah ntar malah tambah puyeng, bengong di rumah. Ya udah ngantor aja, lagian lihat jadwal praktik dokter, dokter yang biasa nangani aku ya besok adanya.

Jadi besok sajalah ngga ngantornya. Dah isin sama bos, Ok katanya. Aku ambil jatah libur pengganti masuk tanggal merah.

Iseng-iseng ke meja teman, eh ada tulisan yang rada nggelitik. Dia nyinggung tentang suatu hal. Hemm dia cari perkara. Awas, pembalasan segera datang loh…

Tapi jujur, baca tulisan itu aku sempat ngakak. Puyeng di kepala hilang beberapa saat. Eh tapi sekarang puyeng lagi. Aduh kenapa ya kepala ku puyeng…..

Tes

Ya..aku memang cuma mau ngetes aja. To day adalah hari pertama aku mengotori halaman my blog dengan sejumlah huruf. Huruf-huruf yang akhirnya terangkai menjadi kata. Dan kata-kata pun menjelma menjadi kalimat.

Jadi udah gitu aja. lah wong cuma ngetes aja kok….

Hello world!

Welcome to Blogdetik.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!