Obrolan 41
Posted in Uncategorized on Desember 24, 2008 by djoko![]()
“Hemmm…kesiangan lagi deh,” gumamku saat melihat kedua jarum jam ditanganku. Jarung panjang berada di angka sementara jarum pendek nyaris menempel pada angka 7. Padahal semalam aku niat bangun pagi.
Ngulet sebentar langsung masuk kamar mandi. Gebyur…gebyur!
********
“Sialan loe, ganggu orang berak aja,” kata Sapto, rekan sekantor. Hampir tiap hari aku numpang mobil dia ke kantor. Rupanya waktu aku telepon ke HP-nya, Sapto lagi asyik merenung sambil beol.
“Ha…ha…sori bos, ntar bareng ya?” ujar ku.
“Eh aku mau ke kantor pajak dulu di Pemda. Kalau mau nunggu ya silakan,” katanya.
“Walah ya udah nggak jadi deh. Ntar kesiangan, ngga enak sama kantor,” jawabku.
*******
“Mau berangkat apa pulang kerja pak,” tanya Prapto, sopir angkot 41 jurusan Cibinong-Kampung Rambutan.
“Mau ngantor,” kataku.
“Kerja di Jakarta,” tanyanya lagi.
“Yup,” kataku lagi.
Prapto diam sejenak. Tapi kulihat matanya melirik ke arah ku penuh selidik. Kedua bibirnya seolah menahan senyum saat pandangannya menyapu kaki ku. Jelas dia tidak percaya aku kerja di tempat yang namanya kantor. Setiap kerja aku memang nggak pernah pakai sepatu. Celana jeans, sendal gunung, plus kaos. Cukup!
“Enak hari gini baru berangkat,” kata Prapto sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 08.10 WIB.
“Ya sih, tapi saya pulangnya malam loh,” bela aku.
*******
Aku masih bersama Prapto di angkotnya yang berwarna biru. Setiap naik angkot, aku selalu memilih duduk di kursi depan. Bisa lihat pemandangan dan tidak eneg.
“Seneng banget sih ngetem. Bikin macet aja,” ujarku saat melihat sejumlah angkot berhenti menunggu penumpang di simpangan Depok. Padahal 10 meter di seberangnya ada pos polisi. Tapi ya dua-duanya, polisi dan sopir angkot, sama-sama cuek tuh.
“Pak, ini semua karena salah sistem. Sopir angkot juga sebenarnya nggak mau macet. Mereka maunya lancar, waktu nggak terbuang percuma. Ini gara-gara sistem kita yang ngga bener,” sengit Prapto.
“Kok nyalahin sistem. Lagian sistem mana yang salah?” tanyaku.
“Lihat saja, jumlah kendaraan di jalan termasuk angkot, banyaknya minta ampun. Pemerintah nggak pernah membatasi jumlah kendaraan. Akibatnya, jalanan macet, jumlah angkot bertambah terus sementara penumpangnya dikit. Jadi terpaksa mereka ngetem cari penumpang. Kalau penumpang dan angkot berimbang mana mungkin kita ngetem,” tutur Prapto sambil mengawasi calon penumpang di pinggir jalan.
“Coba lihat di Jepang dan Singapura, saya gini-gini pernah ke sana, nggak macet. Karena pemerintahnya punya sistem yang baik. Di negara itu mobil mahal, parkir mahal, pajak mahal. Orang nggak gampang punya mobil. Lah di sini, hampir semua orang punya mobil,” tambah Prapto.
“Polisi kan punya data, pertahunnya ada berapa ribu kendaraan. Harusnya jumlah itu dibatasi. Misalnya jumlah maksimal 10 ribu, ya sudah. Orang tidak boleh membeli lagi sebelum jumlahnya berkurang. Bisa juga mobil yang sudah tua nggak boleh lagi di jalan. Ini mah nggak, tiap tahun mobil dibiarin nambah, jalanan segitu-gitu aja,” prapto terus nyerocos.
*******
“Motor juga. Saya setuju banget dibuat jalur khusus motor. Coba lihat setiap hari, motor kalau jalan seliweran kayak tawon. Saya kalau nyupir pas jam berangkat kerja, jadi kayak orang baru belajar nyupir. Sebentar-sebentar ngerem,” sambung Prapto.
“Ini malah dibuat jalur busway. Bikin sempit jalan. Percuma dibuat busway, orang juga masih bergelantungan, desek-desekan. Coba bayangin begitu busway lewat, jalurnya kosong selama puluhan menit. Padahal seandainya dipakai, berapa kendaraan sudah bisa lewat. Ini mubazir,” tutur Prapto.
Loh itu bukannya bukti orang senang naik angkutan umum jadi males pakai mobil pribadi?” ujar ku.
“Ya sih, tapi inget nggak waktu pertama ada bus tingkat. Orang-orang semua norak, pengen naek. Tapi sekarang mana. Busway kayaknya bakal kayak gitu, ntar juga ngga dirawat. Bangsa kita emang bisanya cuma beli, ngga bisa ngerawat,” kata Prapto.
******
“Hidup sekarang lebih susah atau tidak dibandingkan dulu?”
“Ya lebih susah sekarang. Sekarang semua harga mahal, sekolah mahal, pokoknya serba mahal. Orang gampang stres, banyak yang bunuh diri. Kalau dulu memang susah, minyak tanah juga antre. tapi hati kita masih bisa tenang,” jelas Prapto.
“Sekolah gratis, dan meski susah kita ngga punya rasa iri sama orang lain. Semua kayaknya kompak, susah bareng. Kalau sekarang, liat aja yang kaya makin kayak, yang susah ya makin susah. Katanya negara kita krisis, tapi mobil mewah nambah terus. Kalau udah sirik kan jadinya nggak kompak. Orang jadi sering berantem. Anak sekolah berantem, warga tawuran, wah strees,” ujar Prapto.
********
“Ini semua gara-gara salah sistem,” tegas Prapto.
“Gimana caranya buat betulinnya?” tanyaku.
“Revolusi. Tapi itu bahaya, sebab harus berdarah-darah. Wah jangan sampai deh. Tragedi Mei aja udah kayak gitu.
*******
“Berapa bos,” tanyaku.
“3 ribu, turunnya di depanan dikit ya. Ada polisi ntar di tilang, sayang pagi-pagi dah ilang duit,” ujar Prapto.
“Terima kasih ya, oh ya siapa namanya Pak,” tanyaku lagi.
“Prapto. Sama-sama Pak,” jawabnya.
