Bung_Djo

Karena di Bawah Rambut Ada Otak, Stop Asal Jeplak

Obrolan 41

Posted in Uncategorized on Desember 24, 2008 by djoko

angkot.jpg
“Hemmm…kesiangan lagi deh,” gumamku saat melihat kedua jarum jam ditanganku. Jarung panjang berada di angka sementara jarum pendek nyaris menempel pada angka 7. Padahal semalam aku niat bangun pagi.
Ngulet sebentar langsung masuk kamar mandi. Gebyur…gebyur!

********

“Sialan loe, ganggu orang berak aja,” kata Sapto, rekan sekantor. Hampir tiap hari aku numpang mobil dia ke kantor. Rupanya waktu aku telepon ke HP-nya, Sapto lagi asyik merenung sambil beol.

“Ha…ha…sori bos, ntar bareng ya?” ujar ku.

“Eh aku mau ke kantor pajak dulu di Pemda. Kalau mau nunggu ya silakan,” katanya.

“Walah ya udah nggak jadi deh. Ntar kesiangan, ngga enak sama kantor,” jawabku.

*******

“Mau berangkat apa pulang kerja pak,” tanya Prapto, sopir angkot 41 jurusan Cibinong-Kampung Rambutan.

“Mau ngantor,” kataku.

“Kerja di Jakarta,” tanyanya lagi.

“Yup,” kataku lagi.

Prapto diam sejenak. Tapi kulihat matanya melirik ke arah ku penuh selidik. Kedua bibirnya seolah menahan senyum saat pandangannya menyapu kaki ku. Jelas dia tidak percaya aku kerja di tempat yang namanya kantor. Setiap kerja aku memang nggak pernah pakai sepatu. Celana jeans, sendal gunung, plus kaos. Cukup!

“Enak hari gini baru berangkat,” kata Prapto sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 08.10 WIB.

“Ya sih, tapi saya pulangnya malam loh,” bela aku.

*******

Aku masih bersama Prapto di angkotnya yang berwarna biru. Setiap naik angkot, aku selalu memilih duduk di kursi depan. Bisa lihat pemandangan dan tidak eneg.

“Seneng banget sih ngetem. Bikin macet aja,” ujarku saat melihat sejumlah angkot berhenti menunggu penumpang di simpangan Depok. Padahal 10 meter di seberangnya ada pos polisi. Tapi ya dua-duanya, polisi dan sopir angkot, sama-sama cuek tuh.

“Pak, ini semua karena salah sistem. Sopir angkot juga sebenarnya nggak mau macet. Mereka maunya lancar, waktu nggak terbuang percuma. Ini gara-gara sistem kita yang ngga bener,” sengit Prapto.

“Kok nyalahin sistem. Lagian sistem mana yang salah?” tanyaku.

“Lihat saja, jumlah kendaraan di jalan termasuk angkot, banyaknya minta ampun. Pemerintah nggak pernah membatasi jumlah kendaraan. Akibatnya, jalanan macet, jumlah angkot bertambah terus sementara penumpangnya dikit. Jadi terpaksa mereka ngetem cari penumpang. Kalau penumpang dan angkot berimbang mana mungkin kita ngetem,” tutur Prapto sambil mengawasi calon penumpang di pinggir jalan.

“Coba lihat di Jepang dan Singapura, saya gini-gini pernah ke sana, nggak macet. Karena pemerintahnya punya sistem yang baik. Di negara itu mobil mahal, parkir mahal, pajak mahal. Orang nggak gampang punya mobil. Lah di sini, hampir semua orang punya mobil,” tambah Prapto.

“Polisi kan punya data, pertahunnya ada berapa ribu kendaraan. Harusnya jumlah itu dibatasi. Misalnya jumlah maksimal 10 ribu, ya sudah. Orang tidak boleh membeli lagi sebelum jumlahnya berkurang. Bisa juga mobil yang sudah tua nggak boleh lagi di jalan. Ini mah nggak, tiap tahun mobil dibiarin nambah, jalanan segitu-gitu aja,” prapto terus nyerocos.

*******

“Motor juga. Saya setuju banget dibuat jalur khusus motor. Coba lihat setiap hari, motor kalau jalan seliweran kayak tawon. Saya kalau nyupir pas jam berangkat kerja, jadi kayak orang baru belajar nyupir. Sebentar-sebentar ngerem,” sambung Prapto.

“Ini malah dibuat jalur busway. Bikin sempit jalan. Percuma dibuat busway, orang juga masih bergelantungan, desek-desekan. Coba bayangin begitu busway lewat, jalurnya kosong selama puluhan menit. Padahal seandainya dipakai, berapa kendaraan sudah bisa lewat. Ini mubazir,” tutur Prapto.

Loh itu bukannya bukti orang senang naik angkutan umum jadi males pakai mobil pribadi?” ujar ku.

“Ya sih, tapi inget nggak waktu pertama ada bus tingkat. Orang-orang semua norak, pengen naek. Tapi sekarang mana. Busway kayaknya bakal kayak gitu, ntar juga ngga dirawat. Bangsa kita emang bisanya cuma beli, ngga bisa ngerawat,” kata Prapto.

******

“Hidup sekarang lebih susah atau tidak dibandingkan dulu?”

“Ya lebih susah sekarang. Sekarang semua harga mahal, sekolah mahal, pokoknya serba mahal. Orang gampang stres, banyak yang bunuh diri. Kalau dulu memang susah, minyak tanah juga antre. tapi hati kita masih bisa tenang,” jelas Prapto.

“Sekolah gratis, dan meski susah kita ngga punya rasa iri sama orang lain. Semua kayaknya kompak, susah bareng. Kalau sekarang, liat aja yang kaya makin kayak, yang susah ya makin susah. Katanya negara kita krisis, tapi mobil mewah nambah terus. Kalau udah sirik kan jadinya nggak kompak. Orang jadi sering berantem. Anak sekolah berantem, warga tawuran, wah strees,” ujar Prapto.

********

“Ini semua gara-gara salah sistem,” tegas Prapto.

“Gimana caranya buat betulinnya?” tanyaku.

“Revolusi. Tapi itu bahaya, sebab harus berdarah-darah. Wah jangan sampai deh. Tragedi Mei aja udah kayak gitu.

*******

“Berapa bos,” tanyaku.

“3 ribu, turunnya di depanan dikit ya. Ada polisi ntar di tilang, sayang pagi-pagi dah ilang duit,” ujar Prapto.

“Terima kasih ya, oh ya siapa namanya Pak,” tanyaku lagi.

“Prapto. Sama-sama Pak,” jawabnya.

Menarilah dan Terus Tertawa

Posted in Uncategorized on Desember 17, 2008 by djoko

wicak.JPG

Menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga…

Belakangan ini si Sulung lagi gemar menyanyikan lagu Laskar Pelangi yang dibawakan Nidji. Kepalanya goleng-goleng sambil cengengesan. Suaranya yang cempreng kadang terdengar melengking.

Dia memang hobi banget teriak. Bahkan tak jarang hobinya itu membuat mamanya senewen. “Wicak jangan teriak-teriak terus. Berisik tahu…,” kata mamanya. Padahal mamanya sendiri mengatakan itu juga sambil berteriak he…he…

By the way…syair lagu Laskar Pelangi itu memang saya suka. Menggelorakan semangat pada jiwa-jiwa muda. Jiwa-jiwa yang belum tersentuh hipokrit dunia dengan segala manifestasinya.

Sayangnya begitu banyak jiwa-jiwa muda yang tidak bisa bernyanyi dan tertawa setiap saat. Ups ngelantur ah……

Malam Bujang Terakhir Si Ableh

Posted in Uncategorized on Desember 13, 2008 by djoko

Alhamdulillah! Akhirnya si Ableh kawin juga. Begitu jawaban semua teman saat saya kirimkan SMS tentang rencana pernikahan si Ableh. Mereka senang karena akhirnya teman tersebut akhirnya menikah.

Ableh adalah salah satu sahabat saya sewaktu di SMP 135 Pondok Bambu, Jakarta Timur. Anaknya asyik, ramah, selengean tapi serba bisa. Soal bikin prakarya atau kerajinan tangan dia jagonya. Bikin akuarium dan meja kayunya sekalian, soal keciiiiil…

Tapi sayang, soal cinta dia kurang beruntung. Saat teman-teman yang lain dah punya anak atau menikah, Ableh masih membujang. Padahal kalau dari tampang lumayan. Otak juga encer. Nafsu sama perempuan juga gede…he….he….

Makanya surprise banget waktu denger dia mau menikah Minggu 14 Desember 2008. Dan malam Sabtu 13 Desember ini, kita semua mau ngumpul di rumah Ableh. Beberapa teman dan konform mau datang. Umar Dani, Ponce, Pribadi, Rustam, Budi, Rudi Meang, Rudi Abud, Nedi ceper…semuanye siap hadir.

Cuma Domi yang sekarang jadi dokter dan pejabat di Dinkes NTB yang nggak bisa. “Gue ada kunjungan pejabat Depkes,” kata Domi dalam SMS-nya. Begitu deh nasib PNS daerah kalau kedatangan pejabat dari pusat, kudu nyambut.

Meski nggak lengkap, tapi kayaknya acara bakal seru. Ngobrol soal kisah usang sambil cekakakan tentunya…

Selamat Jalan Pak Taman

Posted in Kisah Hidup on Oktober 12, 2008 by djoko

miejawa02.jpg
Pak Taman. Dia bukan politikus yang kerap bikin heboh jagad Indonesia. Dia juga bukan selebritis yang selalu berselimut gosip murahan, kawin cerai, selingkuh dan sebagainya. Jadi dia memang bukan sosok terkenal.

Tapi tunggu dulu. Buat Anda penggemar kuliner kelas kaki lima yang kerap melintas di Jl Buncit - Ragunan, bisa jadi mengenalnya. Yup, Pak Taman adalah juru masak Mie Jawa yang mangkal di pelataran toko di Jl Buncit, mungkin tepatnya tidak jauh dari pertigaan Mangga Besar, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Hampir setiap hari pangkalannya yang sederhana selalu ramai. Kalau lagi apes, untuk mendapatkan 1 porsi mie, pembeli harus mau menunggu puluhan menit. Dan mereka pun rela. Di tangan Pak Taman, aneka jenis masakan mienya memang mak nyus. Mau mie godok, mie goreng, atau magelangan semuanya uenaaaks…

Padahal tidak ada istimewa gaya memasak pria ini. Seperti pedagang mie jawa lainnya, dia juga menggunakan penggorengan berukuran sedang dan anglo berbahan bakar arang kayu. Tapi entahlah, rasa mie jawanya kok bisa good banget.

Saya sendiri bisa dibilang lumayan sering makan mie jawa Pak Taman. Minimal seminggu sekali sepulang dari kantor. Begitu pula dengan teman-teman sekantor lainnya.

Seperti pada Kamis 9 September kemarin. Sekitar pukul 19.30 WIB, saya mampir ke pangkalan Pak Taman bersama Sapto, teman sekantor. Saya memang kangen dengan masakan Pak Taman. Sebab selepas Lebaran, saya memang belum pernah makan mie jawanya.

Hari itu, saya dan Sapto, plus Pak Mahmud (sopir Sapto), lagi apes. Pembeli penuh sekali. Edannya lagi, sebagian besar dari mereka belum makan. Ini artinya, antrean saya masih sangat panjang. “Yah tiga kali masak lagi deh,” ujar seorang wanita yang menjadi pelayan kepada saya.

Satu kali masak hingga penyajian membutuhkan waktu sekitar 10 sampai 15 menit. Jadi hitung sendirilah minimal berapa menit saya harus menunggu untuk mendapatkan seporsi mie jawa goreng. Padahal perut dah lumayan keroncongan.

Tapi setelah berdiskusi sejenak, kami bertiga akhirnya memutuskan untuk tetap makan di tempat itu. Sambil menunggu pesanan diantar, kami ngobrol ngalor-ngidul sambil duduk di atas kursi plastik. Sesekali menjelalatkan mata….he…he….

Saat obrolan baru berjalan beberapa menit, saya merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Tapi saya nggak tahu apa itu. Sampai akhirnya terungkap saat Sapto bertanya pada wanita pelayan itu. “Bapak pundi (kemana) bu?” tanya Sapto.

“Oh bapak sedo (meninggal dunia). Tidak disangka ya,” ujar wanita pelayan itu.

Bapak yang ditanyakan Sapto itu tidak lain adalah Pak Taman, si koki Mie Jawa itu. Ya, Pak Taman meninggal sekitar tanggal 24 September setelah sempat dirawat beberapa hari akibat tertabrak sepeda motor. Peristiwa naas itu dialami Pak Taman saat akan menyeberang jalan tak jauh dari pangkalannya sekitar tanggal 15 September lalu.

“Innalillahi wa inna illaihi rojiun. Oh pantes perasaanku ada yang kurang. Dari tadi aku memang tidak melihat sosok Pak Taman,” kataku dalam hati seolah baru sadar. Tugas memasak mie jawa kini diambilalih oleh pria muda yang selama ini bertugas sebagai pelayanan.

Beberapa menit kemudian, pesanan kami pun datang. Tanpa menunggu lama, adonan mie, minyak, bawang merah, dan bawang putih itu sudah menari-nari di dalam mulut kami.

“Tapi rasanya kok ada yang kurang ya,…ah mungkin perasaan saya saja. Tapi….ah nggak tahulah,” gumam saya dalam hati.

Selamat jalan Pak Taman…

Selamat Mudik, Saya Ngota Saja

Posted in Uncategorized on September 27, 2008 by djoko

Sabtu 27 September, atau H-4 Lebaran, suasana di lingkungan tempat tinggal saya semakin sepi. Maklum, sejumlah rumah tetangga sudah kosong ditinggal penghuninya. Ya, mereka sudah pergi mudik untuk merayakan Lebaran bersama sanak saudara di kampung halaman.

Mas Novi, tetangga yang berada tepat di samping kiri rumahku sudah berangkat ke Garut untuk berlebaran di rumah mertuanya. Uncle Den, tetangga depan rumah, juga sudah caw ke Bandung kemudian lanjut ke Cirebon. Om Markus, tetangga di samping kanan, juga sudah mudik ke Solo. Upss…sepi nian.

Teman-teman di kantor sebagian juga tidak jauh berbeda. Kisah tentang mudik dan pernak-perniknya menjadi topik utama pembicaraan mereka. Bahkan ada juga yang sudah ambil cuti guna menghindari puncak mudik yang diperkirakan jatuh pada H-4 ini. “Wah aku sudah di Indramayu,” kata Sapto saat saya telepon pagi tadi. Sapto dan keluarga mudik ke Jombang, Jawa Timur.

Seru juga melihat semangat tetangga atau teman-teman yang mudik Lebaran. Menempuh perjalanan ratusan hingga ribuan km dengan berbagai cara, naik kendaraan pribadi, sewa mobil, naik bus malam, hingga berhimpitan di KA Ekonomi yang sumpek. Semua dilakukan demi melepas rindu dengan orang-orang tersayang, sujud sungkem di kaki orangtua, atau berbagi kisah di tanah rantau dengan sahabat semasa kecil. Subhanallah indahnya.

Lalu saya sendiri? Saya memang tidak pernah seperti mereka. Saya tidak pernah melewati Lebaran dengan mudik ke luar kota Jakarta. Sebab meski saya keturunan Jawa, saya lahir dan besar di Jakarta, tepatnya di Kemayoran, Jakarta Pusat. Kedua orang tua saya juga sudah lama meninggalkan kampung halamannya.

Gampangnya, sudah tidak ada lagi saudara dekat seperti, Mbah Kakung, Mbah Putri, Pakde (kakak laki-laki orangtua saya), Bude (kakak wanita orangtua saya), Pakle (adik laki-laki orangtua saya) atau Bulek (adik wanita orangtua saya). Seperti kedua orang tua saya, mereka juga sudah beranak-pinak di Jakarta.

Keluarga mertua? Ha…ha…sama saja. Istri saya tersayang merupakan anak Betawi asli. Enyak, Babe, Encang (om), Encing (tante)-nya semua ada di Jakarta. Mereka kumpul di Pisangan Lama, Jakarta Timur.

“Kampung saya sudah dikontrakin,” kilah saya kalau ditanya orang kok tidak mudik. Sebab banyak orang mengira saya lahir dan besar di Jawa Tengah, kampung halaman orangtua saya. Wajar memang mereka menyangka demikian. Soalnya selain nama saya yang sangat agraris, saya juga pandai berbahasa Jawa.

Akhirnya setiap Lebaran jika orang lain banyak yang sibuk mudik ke desa, saya santai saja. Saya dan keluarga tak perlu berjibaku dengan kemacetan berjam-jam di jalan untuk menemui orangtua atau handai taulan. Tapi tentunya, hal ini tidak mengurangi syahdunya Idul Fitri bagi kami.

Di Kemayoran setiap Lebaran, saya pun mengalami hal yang sama dengan tetangga dan teman-teman yang mudik. Sungkem di kaki ibunda, bertemu kakak dan adik, juga ngobrol ngalor-ngidul dengan teman-teman semasa kecil yang sebagian juga sudah tak tinggal di kota halaman kami itu. Mereka pindah atau tinggal di daerah lain setelah berkeluarga, karena pekerjaan dan sebagainya.

Jadi selamat mudik, saya ngota saja…

Pikirkanlah…..Sebelum…

Posted in Renungan on Juli 1, 2008 by djoko

Hari ini…
Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum kamu mengeluh tidak punya apa-apa
Pikirkan tentang mereka yang harus meminta-minta di jalanan.

Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.

Sebelum kamu mengeluh tentang pasangan mu.
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup

Sebelum kamu mengeluh tentang nasib hidupmu,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat

Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul

Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu lalai
Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal di jalanan dengan apa adanya

Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu,
Pikirkan tentang pengangguran yang mencari pekerjaan seperti mu

Sebelum kamu menunjukkan jari telunjukmu untuk menyalahkan orang lain,
Pikirkanlah, bahwa keempat jarimu yang lain menunjuk padamu dan tidak ada orang yang tidak pernah membuat kesalahan.

Unas, Kekejian yang Terulang

Posted in Kisah Hidup on Mei 27, 2008 by djoko

Hari masih pagi. Jam dinding di ruang tamu rumah saya baru menunjukkan pukul 06.00 WIB, Sabtu 24 Mei. Tiba-tiba telepon genggam saya yang tergeletak di sofa berdering.

“Waduh bos, polisi nyerbu Unas (Universitas Nasional). Adik-adik gue pada ditangkepin dan digebukin. Mereka disiksa persis kriminal yang ketangkep basah terus dihakimin massa,” ujar Aloysius Rebong, teman sekaligus Ketua Perhimpunan Alumni Aktivis Unas.

Rupanya demo menolak kenaikan harga BBM yang baru saja diumumkan pemerintah Jumat 23 malam di kampus Unas berujung bentrok. Polisi menyerbu ke dalam lembaga pendidikan ternama di wilayah Pasar Minggu itu.

Mahasiswa yang tertangkap langsung digebuk, dipukul dan ditendang hingga menjerit-jerit kesakitan. Hari itu, semua mahasiswa yang bertemu polisi di dalam kampus Unas pasti babak belur.

Padahal belum tentu semua mahasiswa itu mengikuti unjuk rasa. Bisa jadi mereka memang terjebak atau takut pulang karena demonstrasi berkembang menjadi situasi yang tidak kondusif.

Tapi polisi mana mau tahu. Semua yang berada di dalam kampus adalah demonstran. Dan demonstran harus dihajar. Titik!

Sebenarnya bukan baru kali ini saja aparat melakukan perusakan di dalam kampus. Hal serupa juga pernah, bahkan sering, terjadi sebelumnya. Baik di Jakarta maupun kota lainnya. Di Makassar, polisi pernah memporak-porandakan Universitas Muslim Indonesia (UMI).

Tidak hanya kampus, rumah sakit pun pernah menjadi sasaran amukan polisi di negeri ini. Masih teringat jelas dalam ingatan saya peristiwa penyerbuan ke RS Jakarta pada 20 Oktober 1999, sekitar pukul 22.00 WIB.

Puluhan personel PHH dan Brimob masuk ke dalam RS Jakarta untuk mengejar mahasiswa dan pendukung Megawati. Seperti di Unas, di RS Jakarta polisi juga menghajar siapa saja yang ditemui, entah itu mahasiswa, masyarakat umum, bahkan wartawan.

Sungguh mengerikan bila mengingat kejadian itu. Teriakan minta ampun berbalas dengan ayunan popor senjata atau pentungan. Belum lagi tembakan gas air mata yang dilontarkan di dalam basement. Berbagai peralatan medis yang dimiliki RS tersebut rusak parah. Sejumlah kaca pecah berantakan.

Padahal dalam hukum perang sekalipun tindakan penyerangan oleh aparat keamanan terhadap rumah sakit tidak dapat dibenarkan. Hal ini sesuai dengan konvensi Genewa tahun 1949.

Tapi itulah yang terjadi di negeri ini. Dengan alasan ada provokator atau terprovokasi tindakan mahasiswa, polisi berhak melakukan kekerasan di kampus dan RS sekalipun.

Jadi apa yang terjadi di Unas, bukan yang pertama. Itu adalah sebuah kekejian yang terulang.

Lagu-lagu Perjuangan

Posted in Kisah Hidup on Mei 23, 2008 by djoko

Bergerak dan bersatu, menuju Indonesia Baru. Singkirkanlah benalu, Singkirkan juga Musuh-musuh…

Itu adalah penggalan salah satu ‘Lagu Perjuangan’ mahasiswa yang ramai dinyanyikan saat demo pada bulan Mei, 10 tahun lalu. Saat itu, para mahasiswa menuntut reformasi. Dan di bulan Mei ini, tiba-tiba saja saya teringat lagu-lagu perjuangan itu.

Ada banyak lagu-lagu perjuangan yang dinyanyikan mahasiswa saat mereka berunjuk rasa untuk membangkitkan semangat. Syair dan liriknya ada yang baru atau original, ada pula yang merupakan plesetan dari lagu-lagu yang sudah ada. Sebagian lagu-lagu perjuangan yang masih saya ingat antara lain:

INDONESIA TANAH AIR SIAPA?

Indonesia Tanah Air Siapa
Katanya Tanah Air Beta.
Indonesia Sejak dulu Kala
Rakyatnya Tidak Sejahtera.

Di sana aktivis disiksa
Petani dirampas hartanya
Upah Buruh Murah Dibayarnya
Sampai Mati Tak Punya Rumah.
============

INDONESIA BARU

Bergerak dan Bersatu
Menuju Indonesia Baru
Singkirkanlah Benalu
Singkirkan juga Musuh-musuh

Rakyat Pasti Menang Melawan Penindasa
Rakyat Kita Pasti akan Menang (2x)

Reformasi…Reformasi…Reformasi Sampai Mati

==============
NEGERI BERDARAH

Indonesia negeri berdarah, berbagai macam peristiwa
Ambon, Aceh dan Timor leste, Serta tragedi yang lainnya
Sampai kapan ini terjadi, Dijajah bangsa sendiri
Mari kita rapatkan barisan, tuk melawan penindasan

Tragedi… Semanggi
Tragedi… Trisakti
Tragedi… Dua tujuh Juli,

Peristiwa Lampung
Peristiwa Tanjung Priok
Peristiwa Malari..Banyuwangi

Sudah banyak saudara kita
Yang jadi korban penindasan
Mari kita rapatkan barisan
Tuk melawan penindasan

Aparat…. Keparat
Militer… Bangsaat
Polisi… Anjing taik kucing

Prabowo… Keparat
Wiranto… Bangsaat
Soeharto…. Anjing taik kucing…

=================

DARAH JUANG

Di sini Negeri Kami, Tempat Padi Terhampar
Samuderanya.. Kaya Raya
Negeri Kami Subur Tuhan.

Di Negeri Permai Ini
Berjuta Rakyat Bersimbah Luka
Anak Kurus Tak Sekolah
Pemuda Desa Tak Kerja

Mereka Dirampas Haknya
Tergusur dan Lapar
Bunda Relakan Darah Juang Kami
Tuk Bebaskan Rakyat

Padamu Kami Berjanji
Padamu Kami Berbakti
=============

ABRI

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Tidak Berguna, Diganti Menwa, Ya Sama Saja
Lebih Baik Diganti Pramuka

Naik Bis Kota Tak Pernah Bayar
Apalagi Makan di Warung Tegal
Suka Perkosa Istri Orang
Tukang Pukul Mahasiswa

===============

(Nggak tahu judulnya)

Buruh tani mahasiswa kaum miskin kota
bersatu padu rebut demokrasi
gegap gempita dalam satu suara
demi tugas suci yang mulia

hari-hari esok adalah milik kita
terbebasnya massa rakyat pekerja
terciptanya tatanan massa rakyat
demokrasi sepenuhnya

marilah kawan, mari kita kabarkan
di tangan kita tergenggam arah bangsa
marilah kawan, mari kita nyanyikan
sebuah lagu tentang pembebasan

di bawah topi jerami
kususuri terik matahari
berjuta kali turun aksi
bagi kami suatu langkah pasti

di bawah kuasa tirani
kususuri garis revolusi
berjuta kali lawan tni
bagi kami suatu kemenangan

***
Saat ini demo mahasiswa kembali marak, baik di Jakarta dan di berbagai di pelosok daerah. Mereka menolak kebijakan pemerintah yang berencana menaikkan harga BBM. Aksi refresif aparat pun mulai terjadi. Akankah lagu-lagu ini berkumandang lagi?

Mancing Bareng Si Sulung

Posted in Kisah Hidup on Mei 13, 2008 by djoko

Sabtu 10 Mei malam, telepon rumahku tiba-tiba berdering. “Halo….,” sapa suara yang sangat aku kenal baik.

“Eh besok loe ada acara nggak? Kalau nggak ada, kita mancing yuk,” imbuh si penelepon, yang tak lain adalah Sigit Sujatmiko, teman dekat semasa kuliah dulu.

Aku langsung menjawab Ok. Kebetulan, aku memang beberapa kali janji dengan putra sulungku, Wicak, untuk pergi mancing. Tapi sampai saat ini belum juga terlaksana. Saat kusampaikan rencana ini, bukan main senangnya dia.

Singkat cerita, aku pergi bersama wicak menuju rumah Ian, teman kuliah yang lain. Aku, Sigit, seorang kawan lainnnya bernama Raden, memang janjian kumpul dulu di rumah Ian sebelum mancing. Dari sana, kita berangkat bareng ke kolam pemancingan ikan di Pondok Rajeg, Cibinong. Ian juga membawa putra sulungnya, sedangkan Sigit dan Raden tidak.

Wicak ternyata sangat senang sekali diajak mancing. Matanya kerap berbinar-binar saat mata kailnya disambar ikan yang lapar. Terlebih saat meggulung senar pancing…wuih gayanya kayak profesional. Dia baru berteriak minta bantuan saat sudah kewalahan.

“Papa..ikannya dapat lagi…!” katanya setiap kali berhasil memancing ikan.

Sampai akhirnya kami sadar hari sudah menjelang gelap. Takut kemalaman, aku dan Wicak pun pulang duluan sambil membawa 5 ekor ikan bawal hasil pancingan jagoan kecilku. “Pa kalau aku libur mancing lagi ya,” ujar Wicak. Siap bos!
mancing13.jpgmancing2.jpgmancing3.jpg

Saat SMS Jadi ‘Tuhan’

Posted in Kisah Hidup on Mei 5, 2008 by djoko

Jumat 2 Mei malam, sepulang kerja seperti biasa senyum istri dan 2 anak saya selalu menyambut. Dan seperti biasanya pula, senyum-senyum itu laksana sapu yang menyingkirkan debu kelelahan di sekujur tubuh ini.

Waktu belum larut memang, hingga dua buah hati kecil saya pun masih terjaga. Namun itu tidak lama. Beberapa saat kemudian, keduanya langsung asyik dengan mimpinya masing-masing.

Alhamdulillah, sampai saat ini saya bisa menidurkan keduanya di kasur yang lumayan empuk. Tidak seperti banyak anak-anak lain di negeri ini yang harus tidur berbantal trotoar atau berbaring di bangku dan lantai terminal. Banyak anak di bumi pertiwi ini juga tidur dengan tubuh tertekuk menahan lapar.

“Terima kasih ya Alloh atas segala karuniamu,” bisikku dalam hati saat menatap dalam dua wajah polos itu.

Setelah anak-anak tidur, tinggalah saya duduk berdua dengan istri. Hemm…suasana mendukung nih. Jarang-jarang si sulung tidur sore. Huss…jangan ngeres dulu! Kami berdua sering memanfaatkan waktu luang seperti ini untuk menonton TV. Remote control kuraih dan TV LG 21 inc berwarna silver pun menyala.

Indonesian Idol. Di antara acara kontas-kontes menyanyi yang menjamur di TV lokal, kami berdua paling menyukai Indonesia Idol. Lumayan bagus dibanding yang lain. Dari ajang audisi hingga proses penjuriannya baik.

Siapa yang nggak kenal prestasinya Indra Lesmana dan Titik Dj. Keduanya kerap beberapa kali ikut festival, baik lokal, regional maupun internasional. Cuma Anang yang saya nggak tahu benar, selain dia suaminya KD. Dia pernah jadi jawara di festival apa ya?

Satu persatu peserta wanita unjuk kebolehan. Ada wulan, yang menggebrak dengan lagu berirama cepat milik Pinkan Mambo berjudul Kasmaran. Penampilan cewek asal Yogya ini, cukup Ok. Gayanya lepas dan nggak over.

Begitulah, satu persatu mereka unjuk kebolehan. Ada yang dipuji ada pula yang dihinadinakan oleh para juri. Yuka misalnya, dia menyanyikan lagu Negeri di Awan dari Kantor Bagaskara. Gaya nyanyi cewek ini asyik banget dengan pianonya.

Sampai akhirnya, saat penentuan pun tiba. Siapa yang bakal tersisih segera diumumkan. Sebelumnya, penyanyi Rossa yang hadir di acara itu memprediksi 3 nama yang bakal tersisih adalah Dyna, Safira, dan Gisel. Secara ketiganya emang jelek banget. Lah dengar aja si Safira waktu nyanyiin lagu Dokter Cintanya Dewa Dewi. Ancuuuur banget. Saya setuju banget sama Rossa.

Tapi apa kenyataannya? Prediksi Rossa salah besar. Yang malem itu tersisih malah Yuka, Wulan, dan Ibeth. Tiga kontestan yang nyanyinya justru bagus-bagus banget. Tengok aja pendapat Indra Lesmana. Dia bilang penampilan Ibeth saat menyanyikan Aku Tak Mau Sendiri salah satu yang terbaik.

Tapi yah apa mau dikata. Penilaian juri bukan penentu, bahkan sangat, sangat, sangat tidak ada pengaruhnya. Semuanya serba ditentukan sama SMS. Tragis, ironis, fasis…

Kalau begini caranya, Indonesian Idol nggak ada bedanya sama kontas-kontes nyanyi lainnya. Mereka punya ‘Tuhan’ yang sama, yakni SMS. SMS-lah yang menentukan segalanya, siapa bertahan siapa ditendang. Dan kita tahu, SMS itu berarti uang. Jadi kontestan yang didukung finansial besar, lebih berpeluang menjadi juara. Bukan yang apik suara dan penampilannya.

Seperti gosip jalanan Slank, UUD (Ujung Ujungnya Duit). Bagaimana mau dapat idola yang berkualitas kalau begitu caranya.

“Mah mendingan bobo aja yuk,” kata saya kepada istri. TV dan lampu di ruang keluarga pun padam. Selanjutnya terdengar derit pintu kamar kami terbuka…