<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.3.1" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>Bung_Djo</title>
	<link>http://djoko.blogdetik.com</link>
	<description>Karena di Bawah Rambut Ada Otak, Stop Asal Jeplak</description>
	<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 18:45:07 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Selamat Jalan Pak Taman</title>
		<link>http://djoko.blogdetik.com/2008/10/12/selamat-jalan-pak-taman/</link>
		<comments>http://djoko.blogdetik.com/2008/10/12/selamat-jalan-pak-taman/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 18:28:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djoko</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kisah Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djoko.blogdetik.com/2008/10/12/selamat-jalan-pak-taman/</guid>
		<description><![CDATA[
Pak Taman. Dia bukan politikus yang kerap bikin heboh jagad Indonesia. Dia juga bukan selebritis yang selalu berselimut gosip murahan, kawin cerai, selingkuh dan sebagainya. Jadi dia memang bukan sosok terkenal.
Tapi tunggu dulu. Buat Anda penggemar kuliner kelas kaki lima yang kerap melintas di Jl Buncit - Ragunan, bisa jadi mengenalnya. Yup, Pak Taman adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href='http://djoko.blogdetik.com/2008/10/12/selamat-jalan-pak-taman/22/' rel='attachment wp-att-22' title='miejawa02.jpg'><img src='http://djoko.blogdetik.com/files/2008/10/miejawa02.jpg' alt='miejawa02.jpg' /></a><br />
Pak Taman. Dia bukan politikus yang kerap bikin heboh jagad Indonesia. Dia juga bukan selebritis yang selalu berselimut gosip murahan, kawin cerai, selingkuh dan sebagainya. Jadi dia memang bukan sosok terkenal.</p>
<p>Tapi tunggu dulu. Buat Anda penggemar kuliner kelas kaki lima yang kerap melintas di Jl Buncit - Ragunan, bisa jadi mengenalnya. Yup, Pak Taman adalah juru masak Mie Jawa yang mangkal di pelataran toko di Jl Buncit, mungkin tepatnya tidak jauh dari pertigaan Mangga Besar, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.</p>
<p>Hampir setiap hari pangkalannya yang sederhana selalu ramai. Kalau lagi apes, untuk mendapatkan 1 porsi mie, pembeli harus mau menunggu puluhan menit. Dan mereka pun rela. Di tangan Pak Taman, aneka jenis masakan mienya memang mak nyus. Mau mie godok, mie goreng, atau magelangan semuanya uenaaaks&#8230;</p>
<p>Padahal tidak ada istimewa gaya memasak pria ini. Seperti pedagang mie jawa lainnya, dia juga menggunakan penggorengan berukuran sedang dan anglo berbahan bakar arang kayu. Tapi entahlah, rasa mie jawanya kok bisa good banget.</p>
<p>Saya sendiri bisa dibilang lumayan sering makan mie jawa Pak Taman. Minimal seminggu sekali sepulang dari kantor. Begitu pula dengan teman-teman sekantor lainnya.</p>
<p>Seperti pada Kamis 9 September kemarin. Sekitar pukul 19.30 WIB, saya mampir ke pangkalan Pak Taman bersama Sapto, teman sekantor. Saya memang kangen dengan masakan Pak Taman. Sebab selepas Lebaran, saya memang belum pernah makan mie jawanya. </p>
<p>Hari itu, saya dan Sapto, plus Pak Mahmud (sopir Sapto), lagi apes. Pembeli penuh sekali. Edannya lagi, sebagian besar dari mereka belum makan. Ini artinya, antrean saya masih sangat panjang. &#8220;Yah tiga kali masak lagi deh,&#8221; ujar seorang wanita yang menjadi pelayan kepada saya. </p>
<p>Satu kali masak hingga penyajian membutuhkan waktu sekitar 10 sampai 15 menit. Jadi hitung sendirilah minimal berapa menit saya harus menunggu untuk mendapatkan seporsi mie jawa goreng. Padahal perut dah lumayan keroncongan.</p>
<p>Tapi setelah berdiskusi sejenak, kami bertiga akhirnya memutuskan untuk tetap makan di tempat itu. Sambil menunggu pesanan diantar, kami ngobrol ngalor-ngidul sambil duduk di atas kursi plastik. Sesekali menjelalatkan mata&#8230;.he&#8230;he&#8230;.</p>
<p>Saat obrolan baru berjalan beberapa menit, saya merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Tapi saya nggak tahu apa itu. Sampai akhirnya terungkap saat Sapto bertanya pada wanita pelayan itu. &#8220;Bapak pundi (kemana) bu?&#8221; tanya Sapto.</p>
<p>&#8220;Oh bapak sedo (meninggal dunia). Tidak disangka ya,&#8221; ujar wanita pelayan itu.</p>
<p>Bapak yang ditanyakan Sapto itu tidak lain adalah Pak Taman, si koki Mie Jawa itu. Ya, Pak Taman meninggal sekitar tanggal 24 September setelah sempat dirawat beberapa hari akibat tertabrak sepeda motor. Peristiwa naas itu dialami Pak Taman saat akan menyeberang jalan tak jauh dari pangkalannya sekitar tanggal 15 September lalu.</p>
<p>&#8220;Innalillahi wa inna illaihi rojiun. Oh pantes perasaanku ada yang kurang. Dari tadi aku memang tidak melihat sosok Pak Taman,&#8221; kataku dalam hati seolah baru sadar. Tugas memasak mie jawa kini diambilalih oleh pria muda yang selama ini bertugas sebagai pelayanan.</p>
<p>Beberapa menit kemudian, pesanan kami pun datang. Tanpa menunggu lama, adonan mie, minyak, bawang merah, dan bawang putih itu sudah menari-nari di dalam mulut kami.</p>
<p>&#8220;Tapi rasanya kok ada yang kurang ya,&#8230;ah mungkin perasaan saya saja. Tapi&#8230;.ah nggak tahulah,&#8221; gumam saya dalam hati.</p>
<p>Selamat jalan Pak Taman&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djoko.blogdetik.com/2008/10/12/selamat-jalan-pak-taman/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Mudik, Saya Ngota Saja</title>
		<link>http://djoko.blogdetik.com/2008/09/27/selamat-mudik-saya-ngota-saja/</link>
		<comments>http://djoko.blogdetik.com/2008/09/27/selamat-mudik-saya-ngota-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 19:21:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djoko</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djoko.blogdetik.com/2008/09/27/selamat-mudik-saya-ngota-saja/</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu 27 September, atau H-4 Lebaran, suasana di lingkungan tempat tinggal saya semakin sepi. Maklum, sejumlah rumah tetangga sudah kosong ditinggal penghuninya. Ya, mereka sudah pergi mudik untuk merayakan Lebaran bersama sanak saudara di kampung halaman.
Mas Novi, tetangga yang berada tepat di samping kiri rumahku sudah berangkat ke Garut untuk berlebaran di rumah mertuanya. Uncle [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:o2BdFK5IeC0pEM:http://courseware.nus.edu.sg/e-daf/projects/2102_97-98/p3/pics/IFD03.GIF" alt="" />Sabtu 27 September, atau H-4 Lebaran, suasana di lingkungan tempat tinggal saya semakin sepi. Maklum, sejumlah rumah tetangga sudah kosong ditinggal penghuninya. Ya, mereka sudah pergi mudik untuk merayakan Lebaran bersama sanak saudara di kampung halaman.</p>
<p>Mas Novi, tetangga yang berada tepat di samping kiri rumahku sudah berangkat ke Garut untuk berlebaran di rumah mertuanya. Uncle Den, tetangga depan rumah, juga  sudah caw ke Bandung kemudian lanjut ke Cirebon. Om Markus, tetangga di samping kanan, juga sudah mudik ke Solo. Upss&#8230;sepi nian.</p>
<p>Teman-teman di kantor sebagian juga tidak jauh berbeda. Kisah tentang mudik dan pernak-perniknya menjadi topik utama pembicaraan mereka. Bahkan ada juga yang sudah ambil cuti guna menghindari puncak mudik yang diperkirakan jatuh pada H-4 ini. &#8220;Wah aku sudah di Indramayu,&#8221; kata Sapto saat saya telepon pagi tadi. Sapto dan keluarga mudik ke Jombang, Jawa Timur.</p>
<p>Seru juga melihat semangat tetangga atau teman-teman yang mudik Lebaran. Menempuh perjalanan ratusan hingga ribuan km dengan berbagai cara, naik kendaraan pribadi, sewa mobil, naik bus malam, hingga berhimpitan di KA Ekonomi yang sumpek. Semua dilakukan demi melepas rindu dengan orang-orang tersayang, sujud sungkem di kaki orangtua, atau berbagi kisah di tanah rantau dengan sahabat semasa kecil. Subhanallah indahnya.</p>
<p>Lalu saya sendiri? Saya memang tidak pernah seperti mereka. Saya tidak pernah melewati Lebaran dengan mudik ke luar kota Jakarta. Sebab meski saya keturunan Jawa, saya lahir dan besar di Jakarta, tepatnya di Kemayoran, Jakarta Pusat. Kedua orang tua saya juga sudah lama meninggalkan kampung halamannya. </p>
<p>Gampangnya, sudah tidak ada lagi saudara dekat seperti, Mbah Kakung, Mbah Putri, Pakde (kakak laki-laki orangtua saya), Bude (kakak wanita orangtua saya), Pakle (adik laki-laki orangtua saya) atau Bulek (adik wanita orangtua saya). Seperti kedua orang tua saya, mereka juga sudah beranak-pinak di Jakarta.</p>
<p>Keluarga mertua? Ha&#8230;ha&#8230;sama saja. Istri saya tersayang merupakan anak Betawi asli. Enyak, Babe, Encang (om), Encing (tante)-nya semua ada di Jakarta. Mereka kumpul di Pisangan Lama, Jakarta Timur.</p>
<p>&#8220;Kampung saya sudah dikontrakin,&#8221; kilah saya kalau ditanya orang kok tidak mudik. Sebab banyak orang mengira saya lahir dan besar di Jawa Tengah, kampung halaman orangtua saya. Wajar memang mereka menyangka demikian. Soalnya selain nama saya yang sangat agraris, saya juga pandai berbahasa Jawa.</p>
<p>Akhirnya setiap Lebaran jika orang lain banyak yang sibuk mudik ke desa, saya santai saja. Saya dan keluarga tak perlu berjibaku dengan kemacetan berjam-jam di jalan untuk menemui orangtua atau handai taulan. Tapi tentunya, hal ini tidak mengurangi syahdunya Idul Fitri bagi kami. </p>
<p>Di Kemayoran setiap Lebaran, saya pun mengalami hal yang sama dengan tetangga dan teman-teman yang mudik. Sungkem di kaki ibunda, bertemu kakak dan adik, juga ngobrol ngalor-ngidul dengan teman-teman semasa kecil yang sebagian juga sudah tak tinggal di kota halaman kami itu. Mereka pindah atau tinggal di daerah lain setelah berkeluarga, karena pekerjaan dan sebagainya. </p>
<p>Jadi selamat mudik, saya <em>ngota</em> saja&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djoko.blogdetik.com/2008/09/27/selamat-mudik-saya-ngota-saja/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bayi Ajaib</title>
		<link>http://djoko.blogdetik.com/2008/09/16/bayi-ajaib/</link>
		<comments>http://djoko.blogdetik.com/2008/09/16/bayi-ajaib/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 05:55:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djoko</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djoko.blogdetik.com/2008/09/16/bayi-ajaib/</guid>
		<description><![CDATA[
&#8216;Bayi Ajaib&#8217; adalah sebuah judul film bergenre horor yang ngetop di era 80-an. Film besutan sutradara Tindra Rengat ini merajai seluruh bioskop di Jakarta. Apalagi dibintangi oleh para superstar pada jamannya, yakni  Rina Hassim, Muni Cader, WD Mochtar, dan Wolly Sutinah alias Mak Wok.
Film ini mengisahkan bayi yang penuh keanehan. Meski seorang bayi, dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://tbn5-beta.google.com/images?q=tbn:lo3I_H2N1cH3PM:http://www.channel4.com/video/images/mb/Channel4/video/clip_images/my_fake_baby/My_Fake_Baby_001_001_001_001.jpg" alt="" /></p>
<p>&#8216;Bayi Ajaib&#8217; adalah sebuah judul film bergenre horor yang ngetop di era 80-an. Film besutan sutradara Tindra Rengat ini merajai seluruh bioskop di Jakarta. Apalagi dibintangi oleh para superstar pada jamannya, yakni  Rina Hassim, Muni Cader, WD Mochtar, dan Wolly Sutinah alias Mak Wok.</p>
<p>Film ini mengisahkan bayi yang penuh keanehan. Meski seorang bayi, dia bisa melakukan perbuatan-perbuatan luar biasa. Dia bahkan tega mencelakai ibu kandung yang melahirkannya. Tapi itu sebenarnya di luar kehendaknya. Semuanya disebabkan karena sang jabang bayi disusupi roh jahat.</p>
<p>Kisah bayi ajaib tidak hanya berlaku di dunia perfilman. Pada zaman Soeharto, bangsa Indonesia juga pernah ribut-ribut soal bayi ajaib. Adalah wanita bernama Cut Sahara Fona. Dia mengaku bayinya sudah bisa mengaji dan sebagainya meski masih di dalam perut. </p>
<p>Banyak orang kala itu, baik awam, ulama kelas satu Indonesia sampai para pejabat merasa takjub dan menganggap bayi ajaib itu sebagai pertanda kekuasaan Tuhan. Bahkan mantan perdana menteri Malaysia Tengku Abdul Rahman Putra juga percaya bayi dalam perut bisa mengaji itu benar adanya.</p>
<p>Tapi setelah dibuktikan secara ilmiah, semua itu ternyata bohong. Suara bayi mengaji yang terdengar hanyalah rekaman suara yang diputar dengan menggunakan tape kecil. Semua orang tertipu!</p>
<p>&#8216;Bayi Ajaib&#8217; dalam kisah-kisah di atas memang dua hal yang berbeda. Masing-masing memiliki terminologinya sendiri. Yang satu adalah karya fiksi sedangkan satunya lagi karya kreativitas dunia kriminal. Namun keduanya memiliki kesamaan, sama-sama bohong belaka. Tidak nyata.</p>
<p>Bayi, apalagi yang masih di dalam kandungan, adalah makhluk yang belum memiliki banyak daya. Jangankan mengaji, membuka mulut sekadar untuk bernapas pun tidak bisa. Jadi tidak mungkin dia mampu bersuara.</p>
<p>Begitu pula ketika dia lahir ke dunia, kondisinya masihlah teramat lemah. Tubuhnya senantiasa harus diselimuti agar tidak kedinginan. Mulut mungilnya juga harus selalu dijejali air susu sang bunda agar tidak kelaparan. Dan dalam kurun waktu tertentu mesti diimunisasi secara rutin agar tahan terhadap berbagai gangguan penyakit. </p>
<p>Sederhananya, banyak proses yang harus dilalui sang bayi agar dia menjadi manusia sempurna. Jadi jika ada bayi, apalagi yang belum lahir, mampu berkata-kata sebaiknya tidak usah didengar terlebih dipercaya. </p>
<p>Begitu pula bila ada bayi yang berkoar-koar dirinya adalah makhluk super yang bebas dari segala penyakit,  bisa melakukan bahkan lebih bisa melakukan sesuatu dari orang dewasa, serta mengejek cara berjalan orang lain padahal dia sendiri merangkak pun belum bisa. Anda pasti tahulah bayi macam apa yang seperti ini&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djoko.blogdetik.com/2008/09/16/bayi-ajaib/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Status YM</title>
		<link>http://djoko.blogdetik.com/2008/09/15/status-ym/</link>
		<comments>http://djoko.blogdetik.com/2008/09/15/status-ym/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 05:15:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djoko</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djoko.blogdetik.com/2008/09/15/status-ym/</guid>
		<description><![CDATA[
Kamis 11 September, sekitar pukul 19.30 WIB, saya masih belum meninggalkan kantor. Bukannya rajin, tapi menunggu teman yang punya mobil untuk pulang bareng. Lumayanlah, ngirit ongkos dan nggak capek karena disopirin.
Sambil menunggu kedatangan teman yang sedang ada acara buka puasa bersama di bilangan Senayan, Jakarta Selatan itu, saya iseng-iseng melihat list Yahoo Messenger (YM). Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://tbn7-beta.google.com/images?q=tbn:dpo2mGZKwqTl7M:http://soft.3walim.com/store/products/Yahoo-Messenger-9001389-Beta-81041682311.jpg" alt="" /><br />
Kamis 11 September, sekitar pukul 19.30 WIB, saya masih belum meninggalkan kantor. Bukannya rajin, tapi menunggu teman yang punya mobil untuk pulang bareng. Lumayanlah, ngirit ongkos dan nggak capek karena disopirin.</p>
<p>Sambil menunggu kedatangan teman yang sedang ada acara buka puasa bersama di bilangan Senayan, Jakarta Selatan itu, saya iseng-iseng melihat list Yahoo Messenger (YM). Saya memang senang melihat-lihat status YM teman-teman. Soalnya banyak yang lucu, kadang ada juga yang aneh sehingga membuat teka-teki di benak saya. </p>
<p>Dan benar saja, ada dua status YM teman yang menarik perhatian saya. Pertama bunyinya &#8216;Kacang Lupa Kulit!. Seperti saya bilang tadi, status ini memunculkan teka-teki di benak saya. Ada gerangan apa dia membuat status seperti itu? Untuk siapa status itu ditujukan? Tanda seru di sana membuat saya berfikir dia sedang marah atau kesal. Tapi marah atau kesal kepada siapa?</p>
<p>Iseng-iseng saya menyapanya dengan harapan mengetahui semua jawaban pertanyaan itu (saya orangnya memang want to know aja). Tapi sayang, sapaan saya tidak berbalas. Mungkin teman yang pernah sekantor dengan saya itu sedang sibuk di tempat kerjanya, atau memang betul-betul sedang kesal sehingga malas berkomunikasi.</p>
<p>Status YM teman kedua berbunyi &#8216;Kapitalisme Melambai-lambai di Media Massa&#8212;Jadi Penonton Aja&#8217;. Wah apa pula ini? Berkrenyit dahi saya memikirkan maksud status YM ini.</p>
<p>Seperti pada teman pertama tadi, saya pun bertanya kepada teman kedua ini. Syukurlah, kali ini sapaan saya berbalas jawaban. Eks teman sekantor saya ini memberi alamat sebuah blog milik teman yang juga pernah sekantor dengan saya. &#8220;Baca aja sendiri biar jelas,&#8221; kata teman saya.</p>
<p>Saya turuti perintahnya dengan membuka dan membaca blog tersebut. </p>
<p>&#8220;Ha&#8230;.ha&#8230;.,&#8221; saya ketawa usai membaca blog itu.</p>
<p>&#8220;Any comment?&#8221; tanya teman saya tadi masih lewat YM.</p>
<p>&#8220;Ya, lucu. Tapi sudahlah, ini negara merdeka semua orang bisa berpendapat apa saja selama bisa mempertahankan keelokannya,&#8221; jawab saya.</p>
<p>&#8220;Hi&#8230;.hi&#8230;,&#8221; tulis teman saya menunjukkan dia tertawa.</p>
<p>&#8220;Lucu aja, bukannya dia dulu penji*** bos. Kok sekarang begitu?&#8221; sambung dia. Kata-katanya sengaja saya sensor karena nggak tega menulis penilaian teman saya tentang teman saya si penulis blog itu.</p>
<p>&#8220;Namanya juga manusia. Dinamis,&#8221; jawab saya.</p>
<p>Dalam blognya tersebut teman saya menulis penilaian miringnya terhadap lembaga tempat saya bekerja, yang juga kantornya sendiri dulu. Sebaliknya, di blognya itu juga dia memuji-muji bos di tempat kerjanya yang baru. Dia bilang, bosnya yang baru adalah orang-orang yang memiliki jaminan mutu. Hebat!</p>
<p>Padahal sewaktu sekantor dengan saya, teman penulis blog itu dulunya sangat dekat dengan sejumlah atasan. Dia pandai mengambil hati si bos dengan berbagai cara. Kepindahannya pun berkesan manis sekali. Tidak ada sesuatu yang tidak beres. </p>
<p>Ah&#8230;, saya pun maklum jadinya jika teman saya yang berbicara di YM itu menggunakan kata-kata yang saya sensor tadi untuk teman si penulis blog itu. Mungkinkah dia sedang menggunakan gaya lamanya di tempat barunya? Kalau pun benar, ya manusiawilah&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djoko.blogdetik.com/2008/09/15/status-ym/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pikirkanlah&#8230;..Sebelum&#8230;</title>
		<link>http://djoko.blogdetik.com/2008/07/01/pikirkanlahsebelum/</link>
		<comments>http://djoko.blogdetik.com/2008/07/01/pikirkanlahsebelum/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 07:29:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djoko</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djoko.blogdetik.com/2008/07/01/pikirkanlahsebelum/</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini&#8230;
Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
Sebelum kamu mengeluh tidak punya apa-apa
Pikirkan tentang mereka yang harus meminta-minta di jalanan.
Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.
Sebelum kamu mengeluh tentang pasangan mu.
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini&#8230;<br />
Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu,<br />
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.</p>
<p>Sebelum kamu mengeluh tidak punya apa-apa<br />
Pikirkan tentang mereka yang harus meminta-minta di jalanan.</p>
<p>Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,<br />
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.</p>
<p>Sebelum kamu mengeluh tentang pasangan mu.<br />
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup</p>
<p>Sebelum kamu mengeluh tentang nasib hidupmu,<br />
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat</p>
<p>Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,<br />
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul</p>
<p>Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu lalai<br />
Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal di jalanan dengan apa adanya</p>
<p>Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu,<br />
Pikirkan tentang pengangguran  yang mencari pekerjaan seperti mu</p>
<p>Sebelum kamu menunjukkan jari telunjukmu untuk menyalahkan orang lain,<br />
Pikirkanlah, bahwa keempat jarimu yang lain menunjuk padamu dan tidak ada orang yang tidak pernah membuat kesalahan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djoko.blogdetik.com/2008/07/01/pikirkanlahsebelum/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Unas, Kekejian yang Terulang</title>
		<link>http://djoko.blogdetik.com/2008/05/27/unas-kekejian-yang-terulang/</link>
		<comments>http://djoko.blogdetik.com/2008/05/27/unas-kekejian-yang-terulang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 May 2008 11:50:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djoko</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kisah Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djoko.blogdetik.com/2008/05/27/unas-kekejian-yang-terulang/</guid>
		<description><![CDATA[Hari masih pagi. Jam dinding di ruang tamu rumah saya baru menunjukkan pukul 06.00 WIB, Sabtu 24 Mei. Tiba-tiba telepon genggam saya yang tergeletak di sofa berdering.
&#8220;Waduh bos, polisi nyerbu Unas (Universitas Nasional). Adik-adik gue pada ditangkepin dan digebukin. Mereka disiksa persis kriminal yang ketangkep basah terus dihakimin massa,&#8221; ujar Aloysius Rebong, teman sekaligus Ketua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari masih pagi. Jam dinding di ruang tamu rumah saya baru menunjukkan pukul 06.00 WIB, Sabtu 24 Mei. Tiba-tiba telepon genggam saya yang tergeletak di sofa berdering.</p>
<p>&#8220;Waduh bos, polisi nyerbu Unas (Universitas Nasional). Adik-adik gue pada ditangkepin dan digebukin. Mereka disiksa persis kriminal yang ketangkep basah terus dihakimin massa,&#8221; ujar Aloysius Rebong, teman sekaligus Ketua Perhimpunan Alumni Aktivis Unas.</p>
<p>Rupanya demo menolak kenaikan harga BBM yang baru saja diumumkan pemerintah Jumat 23 malam di kampus Unas berujung bentrok. Polisi menyerbu ke dalam lembaga pendidikan ternama di wilayah Pasar Minggu itu.</p>
<p>Mahasiswa yang tertangkap langsung digebuk, dipukul dan ditendang hingga menjerit-jerit kesakitan. Hari itu, semua mahasiswa yang bertemu polisi di dalam kampus Unas pasti babak belur.</p>
<p>Padahal belum tentu semua mahasiswa itu mengikuti unjuk rasa. Bisa jadi mereka memang terjebak atau takut pulang karena demonstrasi berkembang menjadi situasi yang tidak kondusif.</p>
<p>Tapi polisi mana mau tahu. Semua yang berada di dalam kampus adalah demonstran. Dan demonstran harus dihajar. Titik!</p>
<p>Sebenarnya bukan baru kali ini saja aparat melakukan perusakan di dalam kampus. Hal serupa juga pernah, bahkan sering, terjadi sebelumnya. Baik di Jakarta maupun kota lainnya. Di Makassar, polisi pernah memporak-porandakan Universitas Muslim Indonesia (UMI).</p>
<p>Tidak hanya kampus, rumah sakit pun pernah menjadi sasaran amukan polisi di negeri ini. Masih teringat jelas dalam ingatan saya peristiwa penyerbuan ke RS Jakarta pada 20 Oktober 1999, sekitar pukul 22.00 WIB.</p>
<p>Puluhan personel PHH dan Brimob masuk ke dalam RS Jakarta untuk mengejar mahasiswa dan pendukung Megawati. Seperti di Unas, di RS Jakarta polisi juga menghajar siapa saja yang ditemui, entah itu mahasiswa, masyarakat umum, bahkan wartawan.</p>
<p>Sungguh mengerikan bila mengingat kejadian itu. Teriakan minta ampun berbalas dengan ayunan popor senjata atau pentungan. Belum lagi tembakan gas air mata yang dilontarkan di dalam basement. Berbagai peralatan medis yang dimiliki RS tersebut rusak parah. Sejumlah kaca pecah berantakan.</p>
<p>Padahal dalam hukum perang sekalipun tindakan penyerangan oleh aparat keamanan terhadap rumah sakit tidak dapat dibenarkan. Hal ini sesuai dengan konvensi Genewa tahun 1949.</p>
<p>Tapi itulah yang terjadi di negeri ini. Dengan alasan ada provokator atau terprovokasi tindakan mahasiswa, polisi berhak melakukan kekerasan di kampus dan RS sekalipun.</p>
<p>Jadi apa yang terjadi di Unas, bukan yang pertama. Itu adalah sebuah kekejian yang terulang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djoko.blogdetik.com/2008/05/27/unas-kekejian-yang-terulang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lagu-lagu Perjuangan</title>
		<link>http://djoko.blogdetik.com/2008/05/23/lagu-lagu-perjuangan/</link>
		<comments>http://djoko.blogdetik.com/2008/05/23/lagu-lagu-perjuangan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 May 2008 09:38:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djoko</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kisah Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djoko.blogdetik.com/2008/05/23/lagu-lagu-perjuangan/</guid>
		<description><![CDATA[Bergerak dan bersatu, menuju Indonesia Baru. Singkirkanlah benalu, Singkirkan juga Musuh-musuh&#8230;
Itu adalah penggalan salah satu &#8216;Lagu Perjuangan&#8217; mahasiswa yang ramai dinyanyikan saat demo pada bulan Mei, 10 tahun lalu. Saat itu, para mahasiswa menuntut reformasi. Dan di bulan Mei ini, tiba-tiba saja saya teringat lagu-lagu perjuangan itu.
Ada banyak lagu-lagu perjuangan yang dinyanyikan mahasiswa saat mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bergerak dan bersatu, menuju Indonesia Baru. Singkirkanlah benalu, Singkirkan juga Musuh-musuh&#8230;</p>
<p>Itu adalah penggalan salah satu &#8216;Lagu Perjuangan&#8217; mahasiswa yang ramai dinyanyikan saat demo pada bulan Mei, 10 tahun lalu. Saat itu, para mahasiswa menuntut reformasi. Dan di bulan Mei ini, tiba-tiba saja saya teringat lagu-lagu perjuangan itu.</p>
<p>Ada banyak lagu-lagu perjuangan yang dinyanyikan mahasiswa saat mereka berunjuk rasa untuk membangkitkan semangat. Syair dan liriknya ada yang baru atau original, ada pula yang merupakan plesetan dari lagu-lagu yang sudah ada. Sebagian lagu-lagu perjuangan yang masih saya ingat antara lain:</p>
<p>INDONESIA TANAH AIR SIAPA?</p>
<p>Indonesia Tanah Air Siapa<br />
Katanya Tanah Air Beta.<br />
Indonesia Sejak dulu Kala<br />
Rakyatnya Tidak Sejahtera.</p>
<p>Di sana aktivis disiksa<br />
Petani dirampas hartanya<br />
Upah Buruh Murah Dibayarnya<br />
Sampai Mati Tak Punya Rumah.<br />
============</p>
<p>INDONESIA BARU</p>
<p>Bergerak dan Bersatu<br />
Menuju Indonesia Baru<br />
Singkirkanlah Benalu<br />
Singkirkan juga Musuh-musuh</p>
<p>Rakyat Pasti Menang Melawan Penindasa<br />
Rakyat Kita Pasti akan Menang (2x)</p>
<p>Reformasi&#8230;Reformasi&#8230;Reformasi Sampai Mati</p>
<p>==============<br />
NEGERI BERDARAH</p>
<p>Indonesia negeri berdarah, berbagai macam peristiwa<br />
Ambon, Aceh dan Timor leste, Serta tragedi yang lainnya<br />
Sampai kapan ini terjadi, Dijajah bangsa sendiri<br />
Mari kita rapatkan barisan, tuk melawan penindasan</p>
<p>Tragedi&#8230; Semanggi<br />
Tragedi&#8230; Trisakti<br />
Tragedi&#8230; Dua tujuh Juli,</p>
<p>Peristiwa Lampung<br />
Peristiwa Tanjung Priok<br />
Peristiwa Malari..Banyuwangi</p>
<p>Sudah banyak saudara kita<br />
Yang jadi korban penindasan<br />
Mari kita rapatkan barisan<br />
Tuk melawan penindasan</p>
<p>Aparat&#8230;. Keparat<br />
Militer&#8230; Bangsaat<br />
Polisi&#8230; Anjing taik kucing</p>
<p>Prabowo&#8230; Keparat<br />
Wiranto&#8230; Bangsaat<br />
Soeharto&#8230;. Anjing taik kucing&#8230; </p>
<p>=================</p>
<p>DARAH JUANG</p>
<p>Di sini Negeri Kami, Tempat Padi Terhampar<br />
Samuderanya.. Kaya Raya<br />
Negeri Kami Subur Tuhan.</p>
<p>Di Negeri Permai Ini<br />
Berjuta Rakyat Bersimbah Luka<br />
Anak Kurus Tak Sekolah<br />
Pemuda Desa Tak Kerja</p>
<p>Mereka Dirampas Haknya<br />
Tergusur dan Lapar<br />
Bunda Relakan Darah Juang Kami<br />
Tuk Bebaskan Rakyat</p>
<p>Padamu Kami Berjanji<br />
Padamu Kami Berbakti<br />
=============</p>
<p>ABRI</p>
<p>Angkatan Bersenjata Republik Indonesia<br />
Tidak Berguna, Diganti Menwa, Ya Sama Saja<br />
Lebih Baik Diganti Pramuka</p>
<p>Naik Bis Kota Tak Pernah Bayar<br />
Apalagi Makan di Warung Tegal<br />
Suka Perkosa Istri Orang<br />
Tukang Pukul Mahasiswa</p>
<p>===============</p>
<p>(Nggak tahu judulnya)</p>
<p>Buruh tani mahasiswa kaum miskin kota<br />
bersatu padu rebut demokrasi<br />
gegap gempita dalam satu suara<br />
demi tugas suci yang mulia</p>
<p>hari-hari esok adalah milik kita<br />
terbebasnya massa rakyat pekerja<br />
terciptanya tatanan massa rakyat<br />
demokrasi sepenuhnya</p>
<p>marilah kawan, mari kita kabarkan<br />
di tangan kita tergenggam arah bangsa<br />
marilah kawan, mari kita nyanyikan<br />
sebuah lagu tentang pembebasan</p>
<p>di bawah topi jerami<br />
kususuri terik matahari<br />
berjuta kali turun aksi<br />
bagi kami suatu langkah pasti</p>
<p>di bawah kuasa tirani<br />
kususuri garis revolusi<br />
berjuta kali lawan tni<br />
bagi kami suatu kemenangan</p>
<p>***<br />
Saat ini demo mahasiswa kembali marak, baik di Jakarta dan di berbagai di pelosok daerah. Mereka menolak kebijakan pemerintah yang berencana menaikkan harga BBM. Aksi refresif aparat pun mulai terjadi. Akankah lagu-lagu ini berkumandang lagi?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djoko.blogdetik.com/2008/05/23/lagu-lagu-perjuangan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mancing Bareng Si Sulung</title>
		<link>http://djoko.blogdetik.com/2008/05/13/mancing-bareng-si-sulung/</link>
		<comments>http://djoko.blogdetik.com/2008/05/13/mancing-bareng-si-sulung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 09:55:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djoko</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kisah Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djoko.blogdetik.com/2008/05/13/mancing-bareng-si-sulung/</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu 10 Mei malam, telepon rumahku tiba-tiba berdering. &#8220;Halo&#8230;.,&#8221; sapa suara yang sangat aku kenal baik.
&#8220;Eh besok loe ada acara nggak? Kalau nggak ada, kita mancing yuk,&#8221; imbuh si penelepon, yang tak lain adalah Sigit Sujatmiko, teman dekat semasa kuliah dulu.
Aku langsung menjawab Ok. Kebetulan, aku memang beberapa kali janji dengan putra sulungku, Wicak, untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu 10 Mei malam, telepon rumahku tiba-tiba berdering. &#8220;Halo&#8230;.,&#8221; sapa suara yang sangat aku kenal baik.</p>
<p>&#8220;Eh besok loe ada acara nggak? Kalau nggak ada, kita mancing yuk,&#8221; imbuh si penelepon, yang tak lain adalah Sigit Sujatmiko, teman dekat semasa kuliah dulu.</p>
<p>Aku langsung menjawab Ok. Kebetulan, aku memang beberapa kali janji dengan putra sulungku, Wicak, untuk pergi mancing. Tapi sampai saat ini belum juga terlaksana. Saat kusampaikan rencana ini, bukan main senangnya dia.</p>
<p>Singkat cerita, aku pergi bersama wicak menuju rumah Ian, teman kuliah yang lain. Aku, Sigit, seorang kawan lainnnya bernama Raden, memang janjian kumpul dulu di rumah Ian sebelum mancing. Dari sana, kita berangkat bareng ke kolam pemancingan ikan di Pondok Rajeg, Cibinong. Ian juga membawa putra sulungnya, sedangkan Sigit dan Raden tidak.</p>
<p>Wicak ternyata sangat senang sekali diajak mancing. Matanya kerap berbinar-binar saat mata kailnya disambar ikan yang lapar. Terlebih saat meggulung senar pancing&#8230;wuih gayanya kayak profesional. Dia baru berteriak minta bantuan saat sudah kewalahan.</p>
<p>&#8220;Papa..ikannya dapat lagi&#8230;!&#8221; katanya setiap kali berhasil memancing ikan.</p>
<p>Sampai akhirnya kami sadar hari sudah menjelang gelap. Takut kemalaman, aku dan Wicak pun pulang duluan sambil membawa 5 ekor ikan bawal hasil pancingan jagoan kecilku. &#8220;Pa kalau aku libur mancing lagi ya,&#8221; ujar Wicak. Siap bos!<br />
<a href='http://djoko.blogdetik.com/files/2008/05/mancing13.jpg' title='mancing13.jpg'><img src='http://djoko.blogdetik.com/files/2008/05/mancing13.thumbnail.jpg' alt='mancing13.jpg' /></a><a href='http://djoko.blogdetik.com/files/2008/05/mancing2.jpg' title='mancing2.jpg'><img src='http://djoko.blogdetik.com/files/2008/05/mancing2.thumbnail.jpg' alt='mancing2.jpg' /></a><a href='http://djoko.blogdetik.com/files/2008/05/mancing3.jpg' title='mancing3.jpg'><img src='http://djoko.blogdetik.com/files/2008/05/mancing3.thumbnail.jpg' alt='mancing3.jpg' /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djoko.blogdetik.com/2008/05/13/mancing-bareng-si-sulung/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Saat SMS Jadi &#8216;Tuhan&#8217;</title>
		<link>http://djoko.blogdetik.com/2008/05/05/saat-sms-jadi-tuhan/</link>
		<comments>http://djoko.blogdetik.com/2008/05/05/saat-sms-jadi-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 May 2008 12:58:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djoko</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kisah Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djoko.blogdetik.com/2008/05/05/saat-sms-jadi-tuhan/</guid>
		<description><![CDATA[Jumat 2 Mei malam, sepulang kerja seperti biasa senyum istri dan 2 anak saya selalu menyambut. Dan seperti biasanya pula, senyum-senyum itu laksana sapu yang menyingkirkan debu kelelahan di sekujur tubuh ini.
Waktu belum larut memang, hingga dua buah hati kecil saya pun masih terjaga. Namun itu tidak lama. Beberapa saat kemudian, keduanya langsung asyik dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jumat 2 Mei malam, sepulang kerja seperti biasa senyum istri dan 2 anak saya selalu menyambut. Dan seperti biasanya pula, senyum-senyum itu laksana sapu yang menyingkirkan debu kelelahan di sekujur tubuh ini.</p>
<p>Waktu belum larut memang, hingga dua buah hati kecil saya pun masih terjaga. Namun itu tidak lama. Beberapa saat kemudian, keduanya langsung asyik dengan mimpinya masing-masing. </p>
<p>Alhamdulillah, sampai saat ini saya bisa menidurkan keduanya di kasur yang lumayan empuk. Tidak seperti banyak anak-anak lain di negeri ini yang harus tidur berbantal trotoar atau berbaring di bangku dan lantai terminal. Banyak anak di bumi pertiwi ini juga tidur dengan tubuh tertekuk menahan lapar.</p>
<p>&#8220;Terima kasih ya Alloh atas segala karuniamu,&#8221; bisikku dalam hati saat menatap dalam dua wajah polos itu. </p>
<p>Setelah anak-anak tidur, tinggalah saya duduk berdua dengan istri. Hemm&#8230;suasana mendukung nih. Jarang-jarang si sulung tidur sore. Huss&#8230;jangan ngeres dulu! Kami berdua sering memanfaatkan waktu luang seperti ini untuk menonton TV. Remote control kuraih dan TV LG 21 inc berwarna silver pun menyala.</p>
<p>Indonesian Idol. Di antara acara kontas-kontes menyanyi yang menjamur di TV lokal, kami berdua paling menyukai Indonesia Idol. Lumayan bagus dibanding yang lain. Dari ajang audisi hingga proses penjuriannya baik. </p>
<p>Siapa yang nggak kenal prestasinya Indra Lesmana dan Titik Dj. Keduanya kerap beberapa kali ikut festival, baik lokal, regional maupun internasional. Cuma Anang yang saya nggak tahu benar, selain dia suaminya KD. Dia pernah jadi jawara di festival apa ya? </p>
<p>Satu persatu peserta wanita unjuk kebolehan. Ada wulan, yang menggebrak dengan lagu berirama cepat milik Pinkan Mambo berjudul Kasmaran. Penampilan cewek asal Yogya ini, cukup Ok. Gayanya lepas dan nggak over.</p>
<p>Begitulah, satu persatu mereka unjuk kebolehan. Ada yang dipuji ada pula yang dihinadinakan oleh para juri. Yuka misalnya, dia menyanyikan lagu Negeri di Awan dari Kantor Bagaskara. Gaya nyanyi cewek ini asyik banget dengan pianonya.</p>
<p>Sampai akhirnya, saat penentuan pun tiba. Siapa yang bakal tersisih segera diumumkan. Sebelumnya, penyanyi Rossa yang hadir di acara itu memprediksi 3 nama yang bakal tersisih adalah Dyna, Safira, dan Gisel. Secara ketiganya emang jelek banget. Lah dengar aja si Safira waktu nyanyiin lagu Dokter Cintanya Dewa Dewi. Ancuuuur banget. Saya setuju banget sama Rossa. </p>
<p>Tapi apa kenyataannya? Prediksi Rossa salah besar. Yang malem itu tersisih malah Yuka, Wulan, dan Ibeth. Tiga kontestan yang nyanyinya justru bagus-bagus banget. Tengok aja pendapat Indra Lesmana. Dia bilang penampilan Ibeth saat menyanyikan Aku Tak Mau Sendiri salah satu yang terbaik.</p>
<p>Tapi yah apa mau dikata. Penilaian juri bukan penentu, bahkan sangat, sangat, sangat tidak ada pengaruhnya. Semuanya serba ditentukan sama SMS. Tragis, ironis, fasis&#8230;</p>
<p>Kalau begini caranya, Indonesian Idol nggak ada bedanya sama kontas-kontes nyanyi lainnya. Mereka punya &#8216;Tuhan&#8217; yang sama, yakni SMS. SMS-lah yang menentukan segalanya, siapa bertahan siapa ditendang. Dan kita tahu, SMS itu berarti uang. Jadi kontestan yang didukung finansial besar, lebih berpeluang menjadi juara. Bukan yang apik suara dan penampilannya. </p>
<p>Seperti gosip jalanan Slank, UUD (Ujung Ujungnya Duit). Bagaimana mau dapat idola yang berkualitas kalau begitu caranya. </p>
<p>&#8220;Mah mendingan bobo aja yuk,&#8221; kata saya kepada istri. TV dan lampu di ruang keluarga pun padam. Selanjutnya terdengar derit pintu kamar kami terbuka&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djoko.blogdetik.com/2008/05/05/saat-sms-jadi-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Bengawan Solo</title>
		<link>http://djoko.blogdetik.com/2008/04/22/kisah-bengawan-solo/</link>
		<comments>http://djoko.blogdetik.com/2008/04/22/kisah-bengawan-solo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 08:10:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djoko</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kisah Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://djoko.blogdetik.com/2008/04/22/kisah-bengawan-solo/</guid>
		<description><![CDATA[ 
Saya mempunyai teman akrab, maaf saya tidak bisa sebutkan namanya, di kantor. Dia cukup baik, cerdas, dan solider. Dahulu, sebelum saya berkeluarga (kembali), kemana pun kami selalu bareng. Menyusuri liku-liku dan pelosok Jakarta, dengan segala atributnya siang dan malam, kerap kami lakoni bersama.
Jadi tidaklah aneh, jika saya kenal baik segalanya tentang dia. Begitu juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <img src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:0Xk0FFwT0fBpjM:http://i28.photobucket.com/albums/c242/parto2000/Bengawan-Solo/IMG_3607-size.jpg" /></p>
<p>Saya mempunyai teman akrab, maaf saya tidak bisa sebutkan namanya, di kantor. Dia cukup baik, cerdas, dan solider. Dahulu, sebelum saya berkeluarga (kembali), kemana pun kami selalu bareng. Menyusuri liku-liku dan pelosok Jakarta, dengan segala atributnya siang dan malam, kerap kami lakoni bersama.</p>
<p>Jadi tidaklah aneh, jika saya kenal baik segalanya tentang dia. Begitu juga sebaliknya. Tak terkecuali pengalaman dengan hal yang satu ini, wanita !</p>
<p>Teman saya itu dikenal sebagai play boy. Matanya selalu berbinar-binar saat bercerita soal pengalamannya memburu wanita. &#8220;Gila men, kayak kaca,&#8221; ujar dia jika menggambarkan keseksian wanita dengan perut rata yang baru saja dikencaninya.</p>
<p>Tak terhitung sudah berapa jumlah wanita yang pernah diklaim sebagai pacarnya. Ada Mawar, Melati, Kenanga, Dahlia, serta sederet nama lainnya. Setiap mendapat &#8216;cinta&#8217; baru, di selalu menunjukkan foto sang cewek sebagai bukti otentik. Dan memang hampir semua foto yang ditunjukkan nilainya di atas rata-rata.</p>
<p>Tapi ya itu&#8230;.tidak satu pun dari cewek-cewek itu yang bisa berlama-lama bersanding dengan sang Arjuna. Paling lama, hanya bertahan 2 bulan. Setelah itu putus alias ke laut. </p>
<p>Saya nggak pernah menyelidiki apa alasan di balik kisah kandasnya perahu cintanya. Toh buat saya ngga penting. Itukan urusan pribadi dia. Tapi yang jelas, seringnya dia berganti pacar dan seringnya dia putus, membuat saya punya julukan buat dia. Bengawan Solo.</p>
<p>Kok bengawan Solo? Lah inget dong bait terakhit lagu itu&#8230;Akhirnya ke Lauuuttt&#8230;.ha&#8230;ha&#8230;teman itu sewot bukan main kalau mendengar ejekan itu. Tapi ya namanya juga teman baik, dia pun tidak pernah sungguh-sungguh marah.</p>
<p>Terakhir dia bercerita tentang kekasih barunya bernama sebut saja, Denia. Dan seperti yang sudah-sudah, hubungan mereka hanya bertahan hitungan 2-3 bulan. Dua minggu lalu baru putus. Kisah Bengawan Solo pun kembali terulang. Akhirnya ke Lauuuuuttt&#8230;&#8230;.</p>
<p>Salam Piece Brother</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://djoko.blogdetik.com/2008/04/22/kisah-bengawan-solo/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 0.303 seconds -->
